
My Freedom Family, Hidup Susah Bukan Berarti Ditinggal "Keceriaan"!.
MY FREEDOM FAMILY, Sumber Segala Hal Positif Hidupku!
Mungkin tidak sedikit dari kita (baca : Orang Indonesia) beranggapan bahwa yang namanya Happy Family atau Freedom Family hanya pantas dilekatkan pada mereka yang berpenghasilan besar dengan tanggungan keluarga sedikit. Keluarga-keluarga rakyat Indonesia yang berprofesi klasik seperti tukang becak, petani, buruh harian, nelayan dan berbagai profesi dengan penghasilan harian tak menentu sangat tidak layak untuk disebut Happy Family apalagi Freedom Family. Persepsi keliru ini tumbuh subur dan mengakar menjadi Mindset masyarakat di tengah hiruk pikuk ketidakseimbangan struktur kehidupan kita di alam Nusantara ini. Happy Family atau Freedom Family seringkali didefinisikan sebagai kondisi sebuah keluarga dengan rumah besar lengkap dengan kendaraan pribadinya, elok kediamannya dan elok pula perhiasan yang dikenakannya. Standar hidup seperti inilah yang banyak diburu; tujuannya tidak lain untuk memperoleh kegembiraan dan kebahagiaan sebagai hamba yang haus keselamatan dan kemudahan hidup. Kita sama sekali tidak terpikir atau mungkin tidak mau berpikir esensi sebenarnya dari istilah “kegembiraan” bukanlah berbanding lurus dengan banyaknya harta tapi selurus dengan hati. Hatilah yang menjadi penentu ada tidaknya kegembiraan yang menaungi sebuah keluarga. Sehingga, kegembiraan dapat saja muncul di tengah rimbunnya semak belukar hutan belantara, dimana di situ hidup keluarga petani rukun. Kegembiraan pun bisa saja muncul di sudut kota terkumuh, dimana di situ hidup keluarga pemulung berhati. Bahkan bisa jadi ia pun ada di tengah-tengah ratusan juta rumah rakyat Indonesia yang kini terhimpit beragam masalah: ekonomi, sosial, hukum, dan politik.
Layaknya kelurga saya, meski dihimpit kesusahan dan kesempitan; kegembiraan pun masih tetap ada. Nyaris tak satu pun yang bisa dibanggakan ke tengah para pengguna Internet dari apa yang dimiliki oleh rumah saya; semua perabotannya terbilang sudah lawas, tak ada yang namanya hi-tech Gadget, Komputer apalagi akses Wi-Fi. Sangat kontradiksi dengan tempat saya bekerja, Full Hi-Tech Device. Namun, anehnya justru saya malah lebih merasakan ketentraman dan ketenangan jiwa di rumah ketimbang tempat saya bekerja. Padahal tempat saya bekerja, tak ubahnya seperti rumah sendiri. Hati saya telah terikat dengan suasana rumah. Bahkan bukan hanya saya, seluruh anggota keluarga saya pun merasakan hal yang serupa, ketentraman dan kebahagian rumah. Keterbatasan menjadikan kami semua terbiasa untuk berbagi, kekurangan menempa diri kami untuk saling member, kesempitan telah melapangkan langkah kami untuk terus maju dan dengan pengalaman hidup bersusah memumpuk kami untuk jadi pribadi yang tak takut kalah/susah dan yakin mencapai tiap harapan yang muncul di benak kami.
Bapak, sebagai seorang petani tradisional di pedalaman hutan Sumatera telah berhasil mentransformasikan sifat ulet dan kerja kerasnya kepada kami berempat (Saya, Putra Sanjaya, Mayang Sari, dan si Bungsu – Lenon Ali). Sedangkan Emak, melalui kesabaran, kesederhanan dan kebijaksanaannya telah mampu membangun ikatan batin di antara kami berempat saudara serta rasa takut dan hormat dengan beliau berdua. Beliau terus-menerus berusaha memberikan pemahaman secara langsung mengenai betapa indahnya kerukunan dalam sebuah keluarga. Dan itu memerlukan I’tikad baik dari seluruh anggota keluarga, bukan hanya barang satu atau dua orang.
Anda bisa tengok sendiri, kebersamaan dan keceriaan amat nampak di wajah-wajah kami. Padahal saat itu kami sedang dilanda kesusahan. Kebun Jeruk, satu-satunya harapan Bapak untuk modal membiayai keperluan sekolah kedua adik saya Gagal Panen. Hasil yang diperoleh amat jauh dari yang dikalkulasikan. Tapi apa yang terjadi? Raut muka Bapak saya tetap sama, ceria dan senyumnya yang khas. Kami telah berulang kali menemui kegagalan sehingga kami begitu terbiasa dengan yang namanya gagal dan kamipun tahu bagaimana bangkit dari tiap kegagalan yang menerpa. Satu hal yang patut kami syukuri bersama, ternyata sesuatu yang dicari-cari para kalangan Konglomerat di negeri ini berupa kebahagiaan keluarga telah lebih dulu menghinggapi keluarga kami. Keluarga kecil di tengah pertumbuhan ekonomi yang pesat di wilayah Sumatera bagian Selatan. Sebelumnya, saya hanturkan mohon maaf kepada para pembaca bila dalam tulisan ini terkesan dibuat-buat, yakni hasil eksplorasi imajinasi. Saya katakan tidak, inilah yang sebenarnya cerita yang hendak saya tampilkan dari photo yang saya pampang di atas. Photo yang saya ambil ketika berkumpul dan bercengkrama di malam penuh berkah dan kegembiraan, malam takbiran Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Dialah Bapakku (Belakang), si Petani Tradisional asal Sumatera, Dialah Adikku : Putra Sanjaya (Kiri), Mayang Sari (Depan), dan Dialah Aku, si Penulis (Kanan). Kami adalah satu, saling menjadi inspirasi dalam mengisi tiap lembaran perjalanan hidup di kala lapang ataupun sempit, dikala senang ataupun susah. Ini bukanlah janji tapi niat!
Sedikit Kenangan Di Hari Nan Fitri, Lebaran 2009 (1 Syawal 1430 H)

Photo ini diambil tepat setelah melaksanakan Shalat Hari Raya Ied 1 Syawal 1430 H. Nilai photo ini amat berharga buat kami. Pasalnya, amat susah bagi kami untuk kumpul-kumpul lengkap seperti ini. Di hari-hari lain, Emak dan Bapak tinggal di Kampung untuk mengurusi sawah dan sedikit kebun cabai. Sedangkan, Saya sendiri tinggal di tempat Orang Tua Asuh sekaligus bekerja sebagai Operator Warnet. Adik saya pertama, Putra Sanjaya (T-Shirt Biru Muda) tinggal di rumah paman yang kediamannya lumayan jauh dari rumah. Hanya adik perempuan dan si bungsu, Lenon Ali yang tinggal di rumah dengan ditemani Bibik. Kami terpecah belah, menghuni tiap sudut cakrawala. Namun, hati ya di hati kami terasa selalu bersatu.

Kamilah, seluruh harapan dan cita kedua orangtua ku tertumpu. Terlebih, saya sebagai anak tertua. Sebenarnya, tugas saya tidaklah berat. Karena didikan Mak dan Bak telah menjadikan adik-adik saya hormat dan menurut dengan saya. Lihatlah mereka, begitu nampak penurut dan ceria. Seringnya kami terpisah, jelas kian menambah rasa cinta dan kebersamaan diantara kami. I Love You, My Brothers! Thanks You, Mak & Bak.

Inilah sumber inspirasi utama dalam hidupku. Sebagaimana anak-anak di dunia lainnya. Sebuah nasehat tentang kombinasi antara nilai keagamaan dan perjuangan menempuh penderitaan yang pasti selalu ada selagi hidup di dunia ini. Beliau, dengan kesejukan sorot mata dan kehalusan tutur kata sanggup mencairkan tiap masalah yang kerap muncul. Ia selalu berpesan untuk terus mengambil nilai positif dari keberadaan Internet dengan tanpa mencicipi barang sekali pun sisi negatif yang juga dibawanya. Pesan seperti ini selalu diulang-ulang beliau ketika berkesempatan berkumpul bersama-sama. Entah, tak kuat rasanya menyelesaikan tulisan ini sambil memandangi wajah beliau. Dimana pada wajah beliau mengingatkan betapa kerasanya untuk berjuang; sebuah perjalanan jurnalis dari pedagang Koran di Pasar-pasar Tradisional hingga memulai hidup mulia sebagai Blogger.
Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah SWT.
Mohon Maaf Lahir dan Batin Buat Para dBlogger